Home » Sejarah BP-PAUD dan Dikmas Bali

KEPALA

Dra. Endah Warsiati, M.Pd

FACEBOOK

Sejarah BP-PAUD dan Dikmas Bali

Tertuang dalam Renstra Ditjen PAUD dan Dikmas Kemendikbud RI, bahwa perkembangan kesejarahan Pendidikan Luar Sekolah telah menunjukkan eksistensinya sebagai jalur pendidikan  yang berperan untuk membelajarkan masyarakat sesuai dengan kebutuhannya serta penyambung pendidikan formal dalam mewujudkan pendidikan sepanjang hayat atau Life Long Learning.

Pendidikan nonformal dan informal sebelum terbitnya Undang-Undang Nomor 20  Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional lebih dikenal dengan nama  Pendidikan Luar Sekolah dan/atau Pendidikan Masyarakat.  Pada awal Kemerdekaan  RI dengan dibentuknya Kabinet Pertama, Jawatan Pendidikan Masyarakat masuk  dalam Struktur Organisasi Kementerian Pendidikan dan Pengajaran dan UPTnya Pusat Belajar Masyarakat  serta berubah menjadi UPT Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB), yang  mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pendidikan keaksaraan atau  pemberantasan buta huruf, pendidikan kader pembangunan desa, pendidikan wanita  dan kursus keterampilan untuk orang dewasa.

Prinsip pendidikan masyarakat (pendidikan nonformal dan informal) sebagai  perwujudan dari Pendidikan Sepanjang Hayat adalah bahwa belajar berlangsung mulai  lahir sampai dengan meninggal, sehingga tidak ada kata berhenti belajar. Itulah  prinsip pendidikan nonformal yang dicetuskan para penggagas pendidikan  nonformal seperti Ivan Illich dan Poulo Freire. Prinsip itu semakin relevan jika  diimplementasikan pada abad 21 ini, dimana masyarakat banyak yang karena sesuatu hal tidak memiliki kesempatan mengikuti pendidikan formal dan  kesempatan untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas. Pada kondisi  seperti itu maka peran pendidikan nonformal dan informal sangat Strategis.

Belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan prinsip dasar  penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, pendidikan nonformal dan informal.  Belajar sepanjang hayat berasumsi bahwa proses belajar terjadi seumur hidup  walaupun dengan cara yang berbeda dan proses yang berbeda. Tujuan layanan pendidikan nonformal adalah untuk mendapatkan layanan pendidikan yang tidak  diperoleh dari pendidikan formal, mengatasi dari kemunduran pendidikan  sebelumnya, untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, meningkatkan  keahlian, mengembangkan kepribadian atau untuk beberapa tujuan lainnya (Cropley, 1972). Dengan pemaknaan seperti itu maka keberadaan pendidikan nonformal dan informal dapat memainkan peran sebagai pengganti (substitute), pelengkap  (complement), dan/atau penambah (suplement) dari pendidikan formal.

Filosofi tersebut di atas, telah menempatkan pendidikan nonformal dan informal pada posisi Strategis dalam keseluruhan sistem pendidikan nasional. Filosofi tersebut  menjadikan pendidikan nonformal dan informal memiliki karakteristik tersendiri yang unik dan spesifik sehingga sangat berbeda dengan karakteristik pendidikan  formal. Keunikan pendidikan nonformal tersebut dapat disimak dari penjelasan Sudjana (2000) yang mengidentifikasi karakteristik pendidikan nonformal dari lima  (5) perspektif yakni: pertama, ditinjau dari tujuannya, pendidikan nonformal bersifat  jangka pendek dan khusus, serta kurang menekankan pada ijazah. Kedua, ditinjau  dari waktunya, relatif singkat, lebih menekankan pada masa sekarang dan menggunakan waktu tidak terus menerus.Ketiga, ditinjau dari isi programnya,  kurikulum berpusat pada kepentingan warga belajar, mengutamakan penerapan.  Keempat, ditinjau dari proses pembelajarannya, pendidikan nonformal dipusatkan di  lingkungan masyarakat, berkaitan dengan kehidupan warga belajar dan masyarakat.  Kelima, ditinjau dari aspek pengendaliannya, dikendalikan secara bersama-sama oleh pelaksana program dan warga belajar, serta mengutamakan pendekatan demokratis dengan tidak mengenyampingkan mutu, standar dan kualitas proses maupun hasil pendidikannya.

BP PAUD dan Dikmas Bali mengalami beberapa kali reorganisasi dan perubahan nama sejalan dengan adanya regulasi yang terbit dari aturan pemerintah pusat. Lazimnya kehidupan  yang senantiasa berubah, begitu pula dengan organisasi ini. Perubahan selalu mewarnai tumbuh kembang lembaga sejak masih bernama UPTD. SKB Denpasar Selatan dari tahun 1983-1997, sebagai representasi wilayah dari UPT. Ditjen Diklusepora.

Berselang beberapa pekan, UPTD. SKB Denpasar Selatan beralih nama menjadi BPKB Denpasar Selatan, terbentuk pada tanggal 20 Januari 1997 berdasarkan SK. Mendikbud RI. Nomor: 022/0/1997 juga sebagai representasi wilayah dari UPT. Ditjen Diklusepora.

Gelombang otonomi daerah di penghujung tahun 2000 juga turut membawa perubahan pada tubuh lembaga. Berlakunya Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah membuat status lembaga berada pada persimpangan jalan, tetap menjadi milik pusat atau beralih ke daerah. Berselang tidak lama, BPKB Denpasar Selatan yang berada di bawah naungan UPT. Ditjen Diklusepora kembali berubah nama menjadi UPTD. BPKB Bali, terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah  Pemerintah Provinsi Bali Nomor. 4 tahun 2002, tanggal 28 Februari 2002 sebagai UPTD. Dinas Pendidikan Provinsi Bali.

Merujuk pada Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah, mengharuskan Pemerintah Provinsi Bali mentaati aturan tersebut dengan langkah penyerahan lembaga UPT BPKB Bali Dinas Pendidikan Provinsi Bali Kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang berubah nama menjadi  BP PAUD Dan Dikmas Bali. Dimana tupoksi BP PAUD dan Dikmas tertuang dalam   Permendikbud Nomor 5 Tahun 2017.

PROGRAM


GALERI FOTO

previous arrow
next arrow
ArrowArrow
Slider

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 52
  • 12
  • 53
  • 17
  • 322
  • 2.053
  • 14.826
  • 17.981
  • 6.599
  • 2.647
  • 33
  • 13